Home Berita Kaltim Eko Roni Saputra Belum Menepi, Usia 35 Masih Kejar Panggung MMA Dunia

Eko Roni Saputra Belum Menepi, Usia 35 Masih Kejar Panggung MMA Dunia

0
Eko Roni Saputra Belum Pensiun Menepi, Usia 35 Masih Kejar Panggung MMA Dunia
Eko Roni Saputra masih aktif di usia 35 tahun. (Foto: Dok. Pribadi)

UNDAS.ID – Eko Roni Saputra masih aktif sebagai petarung Mixed Martial Arts (MMA) Indonesia meski memasuki usia 35 tahun. Sambil menunggu kabar dari promotor baru, petarung asal Kalimantan Timur itu tetap menjaga rutinitas latihan sekaligus melatih anak-anak yang ingin mengenal MMA di Gym Alleon MMA.

Roni mengaku belum memiliki jadwal pertandingan terbaru. Namun, jeda tersebut tidak membuatnya meninggalkan rutinitas sebagai atlet.

“Alhamdulillah sekarang masih jadi atlet dan menunggu kabar promotor baru. Tetapi sambil mengisi waktu luang saya, berlatih dan melatih anak-anak untuk belajar MMA,” ujar Roni.

Aktivitas latihan sekaligus mengajar kini menjadi bagian dari keseharian Roni. Ia tetap menjaga kondisi fisik dan mental sambil membuka kelas MMA di Gym Alleon MMA.

Masih Menunggu Kesempatan Kembali ke Panggung Dunia

Pengalaman tampil di ONE Championship membuat keinginan Roni untuk kembali bertanding di level internasional belum padam.

Meski belum mengetahui kapan pertandingan berikutnya datang, ia memastikan statusnya sebagai petarung MMA masih aktif.

“Untuk saat ini saya tetap aktif, tentunya saya merindukan untuk bertanding lagi di MMA. Apalagi di panggung dunia,” katanya.

Bukan hanya ingin kembali bertanding, Roni juga mengaku merindukan suasana latihan di luar negeri. Baginya, lingkungan latihan dengan tantangan berbeda menjadi bagian penting dalam menjaga motivasi sekaligus mengembangkan kemampuan.

Karena itu, masa tanpa pertandingan justru dimanfaatkannya untuk mempertahankan kondisi tubuh. Roni tidak ingin baru mulai berlatih ketika jadwal pertarungan sudah ditentukan.

“Saya selalu menjaga fisik saya, dan saya selalu berlatih setiap hari. Dan sambil mengisi waktu luang untuk mengajar MMA,” ujarnya.

Dari Juara PON ke Panggung MMA Internasional

Sebelum dikenal sebagai petarung MMA, Roni lebih dahulu membangun karier melalui olahraga gulat.

Atlet asal Kalimantan Timur tersebut pernah memperkuat daerahnya sekaligus masuk dalam tim nasional Indonesia. Dari cabang gulat, Roni meraih tiga medali emas PON secara berturut-turut dan beberapa kali tampil di SEA Games.

Perjalanan menuju MMA justru berawal dari tawaran yang datang setelah Asian Games.

Sebuah gym di Singapura ketika itu menawarkan kesempatan kepada Roni untuk beralih ke MMA. Karena belum banyak mengenal olahraga tersebut, ia bahkan sempat mengira tawaran itu merupakan penipuan.

Roni kemudian memutuskan mengambil kesempatan tersebut dan berangkat ke Singapura bersama istrinya.

Sesampainya di Singapura, tawaran tersebut ternyata serius. Roni bahkan menyebut dirinya memperoleh tawaran kontrak senilai Rp80 juta per bulan.

Keputusan itu kemudian membuka babak baru dalam kariernya sebagai atlet profesional.

Lima Tahun Berlatih di Singapura

Pengalaman selama sekitar lima tahun di Singapura menjadi salah satu fase penting dalam perjalanan Roni.

Ia berlatih bersama lingkungan yang diisi atlet dan pelatih dengan pengalaman di berbagai disiplin bela diri. Pengalaman tersebut tidak hanya memperkaya kemampuan bertarung, tetapi juga memberinya perspektif mengenai kehidupan atlet profesional.

Kini, pengalaman itu mulai ia bagikan kepada generasi yang lebih muda.

Roni ingin anak-anak yang mengikuti latihannya tidak hanya mendapatkan teknik dasar MMA, tetapi juga memahami proses panjang yang diperlukan untuk berkembang sebagai atlet.

“Tentunya saya ingin berbagi ilmu saya yang saya dapatkan selama pelatihan saya lima tahun berlatih bersama orang-orang profesional Muay Thai juara dunia, BJJ juara dunia, Boxing juara dunia,” kata Roni.

Bagi Roni, menjadi pelatih tidak berarti mengakhiri karier sebagai petarung. Dua peran tersebut justru berjalan bersamaan.

Di satu sisi, ia masih menunggu kesempatan kembali ke panggung MMA dunia. Di sisi lain, ia mulai membangun proses pembinaan bagi calon atlet muda.

Roni Butuh Dukungan untuk Pembinaan Atlet Muda

Dalam menjalankan proses latihan tersebut, Roni mengatakan masih membutuhkan dukungan, terutama untuk melengkapi peralatan latihan.

Menurutnya, fasilitas yang memadai akan membantu proses pembinaan anak-anak yang mengikuti kelas MMA agar berlangsung lebih optimal.

“Sekarang yang saya butuhkan dukungan dari sponsor. Biar bisa punya alat untuk berlatih yang lengkap,” ujarnya.

Perjalanan Roni kini memasuki fase berbeda. Ia masih mengejar kesempatan untuk kembali bertarung di panggung internasional, tetapi sekaligus mulai menularkan pengalaman kepada generasi berikutnya.

Dari matras gulat Kalimantan Timur, perjalanan ke Singapura, pengalaman berlatih bersama atlet dan pelatih profesional, hingga tampil di ONE Championship, seluruh pengalaman itu kini menjadi bekal yang ia bawa ketika melatih anak-anak MMA.

Usia 35 tahun belum membuat Roni memilih berhenti.

Sambil menunggu kabar dari promotor baru, ia tetap berlatih setiap hari, membuka kelas MMA, dan mempersiapkan diri jika kesempatan kembali ke panggung dunia datang.

Bagi Roni, jeda pertandingan bukan berarti berhenti bergerak. Ada tubuh yang harus tetap dijaga, ilmu yang bisa dibagikan, dan generasi baru yang mulai ditempa.

(red)

Facebook Comments Box
Exit mobile version