Home Lifestyle Hiburan United Freedom dan Sejarah Punk Samarinda yang Nyaris Terlupakan

United Freedom dan Sejarah Punk Samarinda yang Nyaris Terlupakan

0
United Freedom dan Sejarah Punk Samarinda yang Nyaris Terlupakan
Sejarah punk Samarinda diabadikan Faisal Rahman (tengah) dalam zine Harram Jaddah setelah empat tahun menelusuri jejak United Freedom. (Foto: Fae)

UNDAS.ID – Empat tahun bukan waktu yang sebentar untuk menelusuri jejak sebuah komunitas yang sebagian anggotanya bahkan sulit ditemukan. Namun, bagi Faisal Rahman, perjalanan panjang itu menjadi bagian penting dalam merawat ingatan tentang sejarah punk di Kota Samarinda.

Wartawan yang telah berkiprah selama lebih dari 18 tahun tersebut akhirnya menerbitkan Harram Jaddah, sebuah zine setebal 32 halaman yang merekam perjalanan United Freedom, komunitas punk pertama di Samarinda.

Zine ini menjadi hasil dari proses penelitian yang tidak sederhana. Di balik penerbitannya, Faisal harus mengumpulkan kesaksian, menelusuri dokumentasi pribadi, hingga membongkar arsip surat kabar lama untuk merangkai cerita tentang sebuah skena yang tumbuh di luar sorotan utama.

Dalam Bincang Zine Akhir Pekan (ZAP) di Kedai Arukohi, Jalan Cendana, Gang 4, Nomor 33, Faisal menceritakan bagaimana proses panjang tersebut bermula dari keinginannya menggali sejarah kontemporer yang selama ini belum banyak terdokumentasikan.

Menariknya, pengerjaan zine itu sendiri justru berlangsung relatif singkat. Penyuntingan hingga penataan halaman hanya memakan waktu sekitar satu pekan. Sebagian besar waktu penelitiannya dihabiskan untuk mencari sumber dan menghimpun bahan.

Menelusuri Jejak yang Sulit Ditemukan

Salah satu tantangan terbesar dalam menyusun Harram Jaddah adalah menemukan kembali orang-orang yang terlibat dalam gelombang awal punk Samarinda pada awal 2000-an.

Meski telah mengantongi sejumlah nama, Faisal tidak selalu berhasil menjangkau mereka. Sebagian mantan anggota komunitas bahkan sudah tidak diketahui keberadaan maupun kontaknya oleh teman-teman mereka sendiri.

“Beberapa di antaranya memang bisa diwawancara. Kebanyakan justru sulit ditemui karena keberadaan dan kontak mereka sekarang tidak diketahui oleh teman-teman mereka sendiri. Beberapa hasil wawancara juga hilang di rentang waktu itu. Jadi over double kendalanya,” katanya, tertawa.

Keterbatasan sumber membuat proses pengumpulan informasi berjalan lebih rumit. Ada sejumlah nama yang dianggap penting untuk melengkapi cerita, tetapi tidak sempat diwawancarai.

“Ada beberapa nama yang justru tidak sempat saya temui karena satu dan lain hal. Padahal mereka termasuk sumber kunci yang tidak ter-capture secara khusus dalam perjalanan sejarah komunitas punk lokal,” timpal Faisal.

Selain persoalan narasumber, dokumentasi visual juga menjadi pekerjaan tersendiri. Foto-foto yang tersimpan pada masa itu kebanyakan merupakan koleksi pribadi. Mengaksesnya membutuhkan pendekatan, sementara sebagian besar dokumentasi masih berupa foto analog.

Faisal harus memilah gambar berdasarkan periode, memastikan kesesuaiannya dengan cerita, lalu memindai satu per satu agar dapat digunakan dalam proses penyusunan zine.

“Prosesnya ya melelahkan. Karena setiap foto mewakili setiap periode. Lalu juga harus di-scanning. Jadi harus dipilah mana yang sesuai. Makanya untuk melakukan satu proses itu saja butuh Waktu dan tenaga ekstra,” ulasnya.

Membongkar Arsip Surat Kabar Selama Enam Bulan

Upaya menelusuri sejarah punk Samarinda tidak hanya dilakukan melalui wawancara dan dokumentasi pribadi. Faisal juga mendatangi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kalimantan Timur pada 2022.

Selama enam bulan, ia bolak-balik membuka arsip surat kabar yang terbit pada rentang 2000 hingga 2006. Lembaran demi lembaran diperiksa untuk mencari jejak kemunculan United Freedom di ruang publik, termasuk kemungkinan waktu komunitas tersebut mulai dikenal hingga akhirnya bubar.

Penelusuran itu sekaligus dilakukan untuk menemukan pemberitaan mengenai United Freedom dan perkembangan subkultur punk secara lebih luas.

Namun, hasilnya tidak sebanyak yang diharapkan. Pemberitaan yang ditemukan cenderung membahas respons masyarakat terhadap punk, bukan perjalanan komunitas maupun aktivitas mereka secara mendalam.

“Memang tidak banyak yang ditemukan. Kalaupun ada ulasannya tidak spesifik dan hanya berkutat pada respons mereka terhadap pandangan masyarakat,” urainya.

Bagi Faisal, keterbatasan tersebut memperlihatkan persoalan lain dalam upaya menulis sejarah komunitas punk. Informasi yang berasal dari media arus utama tidak selalu mampu menggambarkan pengalaman orang-orang yang menjalani kehidupan dalam subkultur tersebut.

“Dalam subkultur punk, informasi dari media arus utama justru yang mereka lawan. Dan bukan sumber paling sahih. Merekalah sumber sahih itu sendiri. Pilihan ini harus dilakukan karena saya menggunakan metode jurnalistik dalam menghimpun seluruh informasinya,” imbuh Faisal.

Sejarah Punk Samarinda yang Belum Sepenuhnya Terverifikasi

Faisal memperkirakan perjalanan skena punk di Samarinda berlangsung sejak 2000 hingga 2018. Dalam rentang waktu tersebut, terdapat berbagai dinamika dan perkembangan komunitas di sejumlah lokasi.

Ia bahkan telah menyusun peta yang menggambarkan lokasi-lokasi keberadaan komunitas punk beserta perkiraan periodenya. Namun, materi tersebut belum dimasukkan ke dalam Harram Jaddah karena informasi yang tersedia dinilai belum cukup terverifikasi.

Menurutnya, persoalan mendasar dalam menulis sejarah punk Samarinda adalah belum adanya bukti dokumentasi yang benar-benar lengkap mengenai kapan komunitas tersebut pertama kali muncul ke publik.

“Kesaksian dari sumber internal dan eksternal mereka memang valid. Saya melakukan check and balance information soal itu. Tapi memang tidak ada bukti dokumentasi yang menguatkan pernyataan itu. Ditambah saya tak sempat bertemu dengan sumber-sumber kunci lain yang masuk dalam listing. Saya pikir ini memang kelemahan dalam research yang saya lakukan,” ucapnya.

Faisal mengakui, keterbatasan tersebut merupakan bagian dari kelemahan penelitian yang ia lakukan. Meski demikian, ia tetap berupaya memisahkan informasi yang telah memiliki dasar cukup kuat dari bagian yang masih membutuhkan penelusuran lebih lanjut.

Baginya, ketelitian dalam menyusun sejarah menjadi hal penting agar cerita yang disampaikan tidak sekadar menjadi kumpulan ingatan, tetapi juga memiliki dasar informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Merekam Sejarah dari Pinggiran Kota

Di balik proses panjang itu, Faisal melihat sejarah punk sebagai bagian dari perjalanan sosial dan budaya Samarinda yang belum banyak mendapat perhatian.

Ia menilai, komunitas punk turut memberi warna pada perkembangan musik lokal. Namun, perjalanan mereka belum banyak terdokumentasikan secara khusus dan kerap dianggap tidak penting dalam catatan sejarah kota.

Sebagai seseorang yang pernah menjadi bagian dari perjalanan skena underground lokal, Faisal merasa memiliki alasan untuk ikut menjaga ingatan tersebut.

“Apa yang saya lakukan hanya upaya pengarsipan dalam skala kecil,” ujarnya.

Keputusan menerbitkan zine juga tidak terlepas dari pengalaman Faisal menyusun dua buku mengenai sejarah punk dan black metal di Samarinda yang akhirnya tidak berhasil diselesaikan.

Proses penelitian untuk kedua buku tersebut justru menjadi salah satu bagian yang paling menyita waktunya. Setelah melalui berbagai kendala, Harram Jaddah akhirnya terbit pada 15 Januari 2022.

Pilihan menggunakan zine bukan tanpa alasan. Medium penerbitan independen itu memiliki kedekatan dengan tradisi subkultur punk, yang sejak lama memanfaatkan zine sebagai sarana berbagi informasi dan membangun komunikasi.

“Zine mungkin medium paling tepat untuk tema ini. Jadi saya pilih itu,” tandasnya.

Setelah terbit, Harram Jaddah sempat tidak mengalami perkembangan selama empat tahun. Meski demikian, penerbitan zine tersebut tetap menjadi bagian dari upaya Faisal untuk menghadirkan arsip sejarah punk Samarinda yang dapat dibaca kembali.

Sejarah yang Tak Hanya Dibangun oleh Elit

Dalam Bincang ZAP yang digagas Yayasan Muara Kreasi Merdeka, Faisal hadir bersama Sucipto, jurnalis Kompas yang juga menerbitkan zine Klamonski dan Burneo. Diskusi tersebut dipandu oleh R-Jo dari Muara.

Sucipto menilai, pengarsipan sejarah subkultur punk membutuhkan keseriusan karena prosesnya tidak hanya melibatkan pengumpulan cerita, tetapi juga penelusuran dokumen dan sumber-sumber yang tersebar.

Ia melihat pekerjaan Faisal sebagai upaya penting untuk menghadirkan kembali informasi yang selama ini luput dari perhatian media arus utama.

“Itu suatu upaya fisik dan waktu yang serius ya. Karena metode yang diterapkan bang Ical (Faisal, Red.) itu cukup serius. Karena selain mewawancarai banyak orang, dia mengumpulkan dokumen-dokumen seserius itu. Bahkan ke perpustakaan untuk mencari informasi kapan punk pertama kali muncul di media arus utama,” paparnya.

Menurut Sucipto, sejarah sebuah kota tidak hanya dibentuk oleh kelompok yang memiliki posisi penting dalam kehidupan politik maupun pemerintahan. Perjalanan masyarakat juga dipengaruhi oleh kelompok-kelompok yang kerap berada di pinggiran.

“Bagi saya ini adalah upaya untuk mencatat informasi yang luput dari sorotan liputan wartawan-wartawan di media mainstream,” bebernya.

Ia juga mengingatkan bahwa keberadaan komunitas punk tidak semestinya dinilai hanya melalui satu sudut pandang. Di balik citra yang melekat di masyarakat, para punker memiliki pengalaman dan kontribusi yang patut dicatat.

“Dan bang Ical mencoba meng-capture itu sebenarnya,” sebutnya.

Melalui Harram Jaddah, Faisal berupaya membuka ruang bagi cerita yang selama ini belum banyak terdokumentasikan. Zine tersebut mungkin belum mampu menjawab seluruh pertanyaan mengenai sejarah punk Samarinda, tetapi menjadi langkah awal untuk menjaga ingatan tentang perjalanan sebuah komunitas.

Sebab, sejarah kota bukan hanya tentang bangunan, tokoh besar, atau peristiwa resmi. Di dalamnya juga terdapat kisah orang-orang yang bergerak dari pinggiran, membangun komunitas, dan memberi warna pada kehidupan sosial serta budaya.

Bagi Faisal, merekam kisah mereka merupakan bagian kecil dari upaya merawat sejarah yang nyaris terlupakan.

(red)

Facebook Comments Box
Exit mobile version