Oktober29 , 2026

    Sukatani: Band Punk Purbalingga yang Menggemparkan dengan Kritik Sosial

    Related

    Imbauan 5 Rajab Sekumpul, Mobil Wajib Tunggu 2 Jam Saat Pulang

    UNDAS.ID – Imbauan 5 Rajab Sekumpul mengatur sejumlah ketentuan...

    Honda Genio Tampil Makin Kalcer, Warna Baru Bikin Gaya Retro Makin Kece

    UNDAS.ID – Honda Genio mendapat penyegaran tampilan melalui pilihan...

    Modifikator Kaltim Juara Nasional HMC 2026, Scoopy dan Vario 125 Jadi Andalan

    UNDAS.ID – Modifikator asal Kalimantan Timur kembali menorehkan prestasi...

    Final Battle HMC 2026: Ini Para Jawara Modifikasi Honda

    UNDAS.ID – Honda Modif Contest (HMC) 2026 menetapkan tiga...

    Honda Bikers Day 2026 Kumpulkan 32.214 Bikers, Donasi Rp50 Juta

    UNDAS.ID – Honda Bikers Day (HBD) 2026 berhasil menyatukan...

    Share

    UNDAS.ID, Purbalingga – Musik punk di Indonesia kembali ramai dengan kehadiran Sukatani, band asal Purbalingga, Jawa Tengah, yang dikenal lantang menyuarakan kritik sosial. Dibentuk pada tahun 2022, band ini digawangi oleh Novi Chitra Indriyati, yang dikenal sebagai Twister Angel, serta Muhammad Syifa Al Ufti alias Alectroguy. Dengan mengusung gaya punk new wave, mereka tak ragu mengangkat berbagai isu ketidakadilan dalam lirik-liriknya.

    Sejak awal kemunculannya, Sukatani memilih tampil secara anonim dengan mengenakan balaclava, menambah aura misterius sekaligus memperkuat pesan perlawanan yang mereka usung. Namun, anonimitas mereka tak bertahan lama. Identitas kedua personel akhirnya terungkap setelah mereka mendapat tekanan dari pihak kepolisian terkait lagu “Bayar, Bayar, Bayar.”

    Lagu yang dirilis sebagai bagian dari album Gelap Gempita pada 24 Juli 2023 ini menyoroti dugaan penyalahgunaan wewenang oleh oknum aparat. Liriknya yang tajam membuatnya cepat viral di kalangan pendengar, terutama mereka yang merasa suara rakyat kerap diredam.

    Polemik Penarikan Lagu

    Pada 20 Februari 2025, Sukatani mengejutkan publik dengan mengumumkan bahwa mereka telah menarik “Bayar, Bayar, Bayar” dari seluruh platform streaming musik. Dalam unggahan di media sosial, mereka untuk pertama kalinya tampil tanpa topeng, memperkenalkan diri secara terbuka, dan menyampaikan permintaan maaf kepada Kapolri.

    Keputusan tersebut justru memantik perdebatan lebih luas. Banyak pihak menduga bahwa langkah ini dilakukan di bawah tekanan aparat. Alih-alih meredam kontroversi, lagu tersebut justru semakin populer. Bahkan, lagu ini menjadi simbol dalam berbagai aksi demonstrasi bertajuk Indonesia Gelap, yang menyoroti kebebasan berekspresi di negeri ini.

    Sejumlah aktivis dan komunitas musik pun menanggapi kasus ini dengan serius. Mereka menyoroti bagaimana kritik dalam seni masih sering menghadapi tekanan dari pihak berwenang. Kejadian ini menjadi pengingat bahwa kebebasan berpendapat di ruang publik masih memiliki banyak tantangan di Indonesia. (*)

    Facebook Comments Box
    spot_img