Mei21 , 2026

    Putri Junjung Buih dan Kain Sasirangan

    Related

    Bukan Cuma Gowes, Komunitas Pancal Bike Samarinda Dapat Edukasi Safety Riding

    UNDAS.ID, Samarinda – Kesadaran akan pentingnya keselamatan berkendara kembali...

    Padatnya Jalanan Samarinda Bikin Pengendara Harus Makin Waspada, Ini Tipsnya

    UNDAS.ID, Samarinda – Padatnya lalu lintas dan tingginya mobilitas...

    Inspiratif! Perempuan Indonesia Didorong Berani Pimpin dan Ciptakan Perubahan

    UNDAS.ID, Jakarta - Langkah besar menuju lingkungan kerja yang...

    Share

    undas.id – Cerita bermula pada abad ke-12 di Kalimantan Selatan, seorang Patih Negara Dipa yaitu Lambung Mangkurat balampah–bahasa Banjar (bertapa: red) selama 40 hari 40 malam di atas rakit Balarut Banyu–mengikuti arus air, hingga menjelang akhir pertapaannya, rakit yang ditumpangi tiba di daerah Rantau, kota Bagantung.

    Disini Lambung Mangkurat mendengar suara perempuan yang keluar dari segumpal buih, konon asal suara itu tak lain adalah dari Putri Junjung Buih. Nah untuk melihat wujud dari Putri tersebut sang Patih harus mengabulkan permintaannya, yakni sebuah istana Batung dan selembar kain yang ditenun dan dicalap (warnai : red) dan kedua permintaan itu harus selesai dalam satu hari.

    Selembar kain yang ditenun dan dicalap tadi disebut kain Langgundi, dibuat oleh 40 orang wanita yang masih perawan dengan motif padiwaringin, motif ini menurut cerita merupakan motif pertama kain Sasirangan. Kabarnya Putri junjung Buih menginginkan kain Langgundi berwarna kuning.

    Kemudian pada hari yang disepakati, naiklah sang Putri ke alam manusia meninggalkan tempat persemayamannya yang terletak didasar sungai Tabalong.

    Konon dengan menggunakan kain Langgundi berwarna kuning, Putri Junjung Buih dilihat nampak anggun oleh warga Kerajaan Negara Dipa saat itu. Kain Langgundi inilah kemudian dikenal dengan kain Sasirangan hingga saat ini.

    Seperti itulah cerita turun temurun tentang asal muasal kain Sasirangan.

    Kain Sasirangan merupakan kain tradisional berasal dari Kalimantan Selatan yang telah ditetapkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai salah satu dari 33 kain tradisional warisan budaya tak benda di Indonesia.

     

    Editor: Abe

    Facebook Comments Box
    spot_img