Mei6 , 2026

    Living Museum Banjarbaru Menguat, Cempaka Bisa Jadi Ikon Baru yang Bikin Bangga

    Related

    Living Museum Banjarbaru Menguat, Cempaka Bisa Jadi Ikon Baru yang Bikin Bangga

    UNDAS.ID, Banjarbaru — Living Museum Banjarbaru dinilai berpotensi menjadi...

    Indonesia Raya Berkibar! Aksi Abimanyu dan Resky di Sepang Bikin Bangga

    UNDAS.ID, Sepang – Dua pebalap muda Indonesia sukses mencuri...

    Stop Gas + Rem di Tanjakan! Ini Dampak Ngerinya Buat Motor Kamu

    UNDAS.ID, Samarinda – Pengendara sepeda motor di Samarinda dihadapkan...

    Logo Hardiknas 2026 Resmi Diluncurkan, Ini Makna dan Pesan Kuatnya

    UNDAS.ID, Jakarta - Arah baru pendidikan Indonesia kembali ditegaskan...

    Share

    UNDAS.ID, Banjarbaru — Living Museum Banjarbaru dinilai berpotensi menjadi kekuatan baru dalam pengembangan ekonomi kreatif dan pariwisata daerah. Melalui konsep berbasis budaya, sejarah, dan kehidupan masyarakat, potensi pendulangan intan Cempaka disebut dapat memperkuat posisi Banjarbaru menuju jejaring Kota Kreatif.

    Menurut Narwanto, pengembangan ekonomi kreatif tidak harus selalu dimulai dari sesuatu yang baru. Daerah justru dapat memulainya dari kekuatan yang sudah dimiliki, seperti budaya, sejarah, tradisi, sumber daya manusia, hingga potensi alam.

    Ia menjelaskan, Banjarbaru memiliki modal kuat melalui kawasan Cempaka yang dikenal dengan tradisi pendulangan intan. Aktivitas tersebut tidak hanya dipandang sebagai kegiatan ekonomi masyarakat, tetapi juga sebagai warisan budaya dengan narasi yang khas dan sulit ditemukan di daerah lain.

    “Living Museum itu bukan museum fisik, tetapi museum kehidupan. Di Banjarbaru, salah satu potensi kuatnya ada di Cempaka dengan budaya mendulang intan,” kata Narwanto dalam pernyataannya.

    Narwanto menilai, pendulangan intan Cempaka dapat dikembangkan sebagai bagian dari aset budaya dan heritage. Jika dikemas secara serius, potensi itu bisa melahirkan berbagai subsektor ekonomi kreatif, mulai dari seni pertunjukan, kuliner, kerajinan, fesyen, musik, hingga kegiatan wisata berbasis pengalaman.

    Ia juga menekankan pentingnya pendekatan tujuh aset dalam membaca potensi suatu daerah. Tujuh aset tersebut meliputi spiritual asset, human asset, cultural asset, heritage asset, natural asset, ecological asset, dan other asset.

    Melalui pemetaan tersebut, pemerintah daerah dapat melihat aset mana yang paling dominan, paling potensial, dan paling memungkinkan untuk dikembangkan menjadi ekosistem ekonomi kreatif. Narwanto menyebut, Living Museum Banjarbaru memiliki peluang karena di dalamnya terdapat unsur budaya, sejarah, manusia, dan ruang hidup masyarakat.

    “Dari hasil penggalian aset-aset itu, bisa dipetakan mana yang dominan atau saling terkait hingga membentuk sebuah ekosistem,” ujarnya.

    Narwanto menambahkan, ekonomi kreatif pada akhirnya tetap membutuhkan pariwisata sebagai penggerak pemasaran. Namun, daya tarik wisata tersebut harus dibangun dari cerita, pengalaman, inovasi, dan kekhasan lokal agar tidak berhenti hanya sebagai kunjungan biasa.

    Ia mencontohkan, sejumlah daerah telah menampilkan kekuatan lokalnya dalam Festival Kota Kreatif. Banjarmasin, misalnya, pernah mengangkat susur sungai dan pembuatan sasirangan sebagai bagian dari identitas kreatif daerah.

    Banjarbaru, menurut Narwanto, juga memiliki peluang serupa. Dengan mengangkat Living Museum dan pendulangan intan Cempaka, kota ini dapat memperkuat posisinya dalam jejaring Kota Kreatif sekaligus membuka ruang kolaborasi antara pemerintah, pelaku ekonomi kreatif, komunitas, dan sektor pariwisata.

    Narwanto mengatakan, pihaknya siap memberikan rekomendasi dan pendampingan apabila konsep tersebut ingin dikawal lebih lanjut. Ia berharap potensi yang sudah ada tidak berhenti sebagai wacana, tetapi benar-benar dikemas menjadi program yang memberi manfaat bagi masyarakat.

    “Agar potensi itu tidak terkubur, cara mengangkat narasinya harus luar biasa. Itu yang kami dorong untuk Banjarbaru. Setelah konsepnya terbentuk, pariwisata yang nantinya akan memasarkan. Jadi, kami memicu, mengemas, sekaligus memberikan rekomendasi. Kalau nanti ingin dikawal lebih lanjut, kami siap mengawal agar program ini benar-benar bisa berjalan,” tandasnya. (Abe)

    Facebook Comments Box
    spot_img