September8 , 2026

    Salat Istisqa PWI Kaltim di Tengah Kemarau dan Ancaman Karhutla

    Related

    Salat Istisqa PWI Kaltim di Tengah Kemarau dan Ancaman Karhutla

    UNDAS.ID – Kemarau di Kalimantan Timur belum menunjukkan tanda-tanda...

    ARRC Sepang 2026: Rheza Danica Kejar 26 Pebalap hingga Podium

    UNDAS.ID – Asia Road Racing Championship (ARRC) Sepang menghadirkan...

    Tiga Seri Tersisa, Ramadhipa Masih Punya Peluang Juara Moto3 Junior 2026

    UNDAS.ID – Moto3 Junior World Championship 2026 memasuki paruh...

    Share

    UNDAS.ID – Kemarau di Kalimantan Timur belum menunjukkan tanda-tanda berakhir. Tanah yang mengering, ancaman kebakaran lahan, kabut asap hingga persoalan pasokan air bersih perlahan menjadi bagian dari keseharian warga.

    Di tengah kondisi itu, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kaltim memilih satu cara untuk mengetuk langit. Senin pagi, 7 September 2026, para wartawan menggelar salat istisqa di Jalan Biola, Samarinda tepatnya di depan Kantor PWI Kaltim.

    Salat meminta hujan tersebut turut dihadiri Wakil Wali Kota Samarinda Saefuddin Zuhri.

    Bagi PWI Kaltim, kegiatan ini bukan berarti menyerahkan seluruh persoalan kemarau hanya kepada doa. Salat istisqa diposisikan sebagai ikhtiar spiritual, sementara persoalan yang muncul akibat kemarau tetap membutuhkan langkah nyata berbasis ilmu pengetahuan dan kebijakan pemerintah.

    Ketua PWI Kaltim Abdurrahman Amin mengatakan kemarau dapat dipandang sebagai bagian dari bencana yang membutuhkan pendekatan dari dua sisi.

    “Jadi ini kan bagian dari ikhtiar kita sebagai organisasi. Kalau bicara kemarau, ini kan salah satu bagian dari bencana. Pendekatannya memang ada dua, ada secara sains dan ada spiritual,” ujar Abdurrahman saat diwawancarai.

    Ketika Kemarau Mulai Terasa di Banyak Sisi

    Kemarau sepanjang 2026 sebenarnya bukan sesuatu yang datang tanpa peringatan. Fenomena El Nino sebelumnya telah diprediksi menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kondisi cuaca.

    Kini, dampaknya mulai terasa lebih nyata.

    Salah satu persoalan yang paling mudah terlihat adalah meningkatnya ancaman kebakaran hutan dan lahan. Ketika vegetasi mengering dan kondisi lingkungan semakin rentan terbakar, titik api dapat berkembang menjadi persoalan yang jauh lebih besar.

    Asap dari kebakaran pun membawa persoalan baru. Kualitas udara dapat memburuk dan mengganggu aktivitas masyarakat.

    Samarinda dan sejumlah wilayah lain di Kalimantan Timur pun harus berhadapan dengan situasi tersebut.

    Namun, persoalan kemarau tidak berhenti pada api dan asap.

    Air bersih menjadi kebutuhan lain yang ikut berada dalam tekanan.

    Abdurrahman menilai kondisi tersebut perlu direspons bukan hanya melalui tindakan pemerintah, tetapi juga melalui peran media dalam memberikan informasi kepada masyarakat.

    “Selain dari itu, ya, tentu kami dari organisasi PWI yang membawahi teman-teman wartawan di Kalimantan Timur tetap melakukan kegiatan-kegiatan, utamanya melakukan edukasi kepada masyarakat, juga memberikan kritik-kritik kepada kebijakan-kebijakan pemerintah, supaya musibah seperti ini dampaknya tidak ke mana-mana dan tidak merugikan masyarakat,” katanya.

    Dengan posisi tersebut, PWI Kaltim ingin fungsi jurnalistik tetap berjalan di tengah situasi yang membutuhkan perhatian publik. Edukasi menjadi penting agar masyarakat memahami risiko kemarau, sementara kritik terhadap kebijakan pemerintah diperlukan untuk memastikan penanganan tidak berhenti pada respons sesaat.

    Pemkot Samarinda Ikut Memohon Hujan

    Kehadiran Wakil Wali Kota Samarinda Saefuddin Zuhri dalam salat istisqa menjadi bentuk dukungan Pemerintah Kota Samarinda terhadap ikhtiar yang dilakukan PWI Kaltim.

    Saefuddin mengapresiasi kegiatan tersebut. Baginya, doa yang dipanjatkan bersama menjadi bentuk kebersamaan antara pemerintah dan masyarakat dalam menghadapi kondisi alam yang sedang terjadi.

    “Atas nama Pemerintah Kota Samarinda, kita terima kasih kepada PWI yang telah mengadakan acara ini. Ini semua atas kebersamaan PWI dan Pemerintah Kota Samarinda, bersama-sama memohon kepada Allah SWT,” ujar Saefuddin.

    Di tengah doa agar hujan segera turun, ada pekerjaan lain yang tidak kalah penting: mencegah kondisi yang ada agar tidak semakin buruk.

    Saefuddin mengingatkan masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap penggunaan api. Lahan dan lingkungan yang mengering membuat sumber api sekecil apa pun berpotensi memicu kebakaran.

    Masyarakat juga diminta memperhatikan titik-titik yang berpotensi menjadi sumber api di lingkungan masing-masing.

    Air Mahakam Pun Tak Sepenuhnya Aman

    Kemarau juga memperlihatkan persoalan lain yang mungkin tidak langsung terlihat.

    Ketika hujan semakin jarang, persoalan air baku ikut menjadi perhatian. Bahkan, kondisi di Sungai Mahakam sempat memengaruhi operasional pengolahan air di kawasan Bantuas.

    Saefuddin menyebut pasokan air dari PDAM belakangan mengalami kondisi yang naik-turun. Salah satu persoalan terjadi ketika intrusi air laut bergerak masuk ke bagian hulu Sungai Mahakam.

    Akibatnya, kawasan Bantuas turut merasakan gangguan pada operasional pengolahan air.

    Kondisi tersebut sejalan dengan pemantauan Perumda Tirta Kencana Samarinda. Sejak akhir Agustus, jam operasional Instalasi Pengolahan Air (IPA) Bantuas dikurangi menyusul meningkatnya kadar klorida akibat desakan air laut ke badan Sungai Mahakam.

    Situasi ini membuat pesan untuk menghemat air menjadi semakin relevan.

    Di satu sisi, masyarakat membutuhkan air untuk kebutuhan sehari-hari. Di sisi lain, sumber daya air yang tersedia harus digunakan secara bijak agar dapat memenuhi kebutuhan lebih banyak orang.

    “Untuk pemakaian air juga kita harus menghemat, karena bermasalah dengan banyak orang yang memerlukan, banyak orang yang memanfaatkan. Semoga ini bisa bermanfaat bagi seluruh Kota Samarinda,” tutup Saefuddin Zuhri.

    Menunggu Hujan, Sambil Tetap Bergerak

    Salat istisqa di halaman Kantor PWI Kaltim pagi itu pada akhirnya menjadi gambaran bagaimana masyarakat menghadapi kemarau dari dua arah.

    Doa dipanjatkan agar hujan segera turun. Tetapi di saat yang sama, masyarakat tetap harus berhadapan dengan persoalan nyata: mencegah kebakaran, menjaga kualitas udara, menghemat air, dan memastikan kebijakan penanganan berjalan.

    Sebab, ketika kemarau berlangsung panjang, hujan memang menjadi harapan.

    Namun sebelum hujan benar-benar datang, kewaspadaan dan kepedulian bersama tetap menjadi pertahanan paling dekat bagi masyarakat Samarinda.

    (red)

    Facebook Comments Box
    spot_img