Beranda blog Halaman 80

    Amalan yang Biasa di Lakukan Ketika Malam Nisfu Syaban

    0
    Nisfu Syaban

    BANJARBARU, undas.id – Ada beberapa malan yang dilakukan umat muslim ketika malam Nisfu Syaban, apa saja itu:

    1. Membaca Yasin

    Membaca Surah Yasin setelah shalat magrib merupakan hasil ijtihad sebagian ulama, konon ia adalah Syeikh Al Buni, dan hal itu bukanlah suatu yang buruk. (Syaik Muhammad bin Darwisy, Asna al-Mathalib, 234).

    “Diantara keistimewaan surah Yasin, sebagaimana menurut sebagian ulama dibaca ketika malam Nisfu Syaban sebanyak 3 kali.

    Membaca pertama diniatkan meminta panjang umur, kedua dengan niat terhindar dari bencana dan ketiga agar tidak bergantung kepada mahluk. (Fathi al-Malik al-Majid 19).

    1. Berdoa

    Ibnu Mas’ud berkata, “Tidak seorang pun berdoa dengan beberapa doa kecuali Allah akan melapangkan hidup baginya: Wahai Dzat pemberi anugerah, maka tak ada yang mampu memberi anugerah pada Mu. Wahai Dzat yang Agung dan Mulia, pemberi anugerah dan nikmat.

    Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau. Wahai penolong pengungsi, pelindung para pencari perlindungan, pemberi rasa aman bagi yang ketakutan. Jika Engkau menakdirkan aku di Lauh Mahfudz sebagai orang yang celaka maka hapuskanlah. Dan tetapkanlah aku disisi Mu sebagai hamba yang beruntung dan mendapatkan pertolongan pada kebaikan.

    Allah berfirman dalam Al Quran: “039.

    Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan disisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh)”. (Riwayat Ibnu Abi Syaibah, Al-Mushannaf 7/85).

    1. Shalat Sunah

    Melaksanakan shalat sunah secara mutlak djelaskan dalam hadist

    Nabi bersabda : “Shalat adalah sebaik-baik syariat, siapa yang ingin memperbanyak maka perbanyaklah, dan siapa yang ingin melakukan sedikit maka lakukanlah”

    (Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan bahwa hadist ini dinilai sahih oleh Ibnu Hibban. Fath Al-Bari 2/479).

    Hadist inilah yang dijadikan Mufti Mesir dalam melaksanakan shalat mutlak, namun harus menjaga betul dengan niat shalat tersebut agar tidak diniati dengan niat shalat yang tidak ada tuntunannya.

    1. Puasa

    Puasa dipertengahan bulan Syaban atau 15 Syaban ada yang berpendapat bidah, namun demikian ada ulama yang membolehkan karena termasuk hari-hari purnama (tanggal 13, 14, 15 Hijriah) yang dianjurkan berpuasa disetiap bulannya.

    Demikian amalan-amalan malam Nisfu Syaban yang mungkin bisa dikerjakan.

    Wallahu A’lam Bish Showab. (iNews)

     

    Editor: Abe

    Facebook Comments Box

    Kapan sih Nisfu Syaban Dilakukan Pertama Kali

    0
    Nisfu Syaban

    BANJARBARU, undas.id – Syaban merupakan bulan kedelapan dalam kalender Hijriah, pada bulan ini ada salah satu hari yang diistimewakan oleh umat muslim yakni malam ke-15 atau biasa disebut malam Nisfu Syaban.

    Tahun ini, 2023 masehi atau 1444 hijriah, awal Syaban berdasarkan Kalender Hijriah IndonEsia tahun 2023 oleh Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Kementerian Agama Republik Indonesia bertepatan 22 Februari.

    Oleh karenanya Nisfu Syaban jatuh pada 8 Maret atau 7 Maret 2023 malam.

    Sedangkan kalau merujuk Kalender Islam Global Tunggal 1444 hijriah yang disusun Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, 1 Syaban 1444 hijriah bertepatan 21 Pebruari 2023. itu berarti Nisfu Syaban jatuh pada tanggal 7 Maret atau 6 Maret 2023 malam.

    Lalu sejak kapan malam Nisfu Syaban ini dimulai?

    Melansir laman resmi Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdatul Ulama (LTN NU) PWNU Jatim, melalui laman Halaqoh.net terbit 17 Mei 2016 lalu dan laman tribunnews.com tanggal 15 Maret 2022.

    Malam Nisfu Syaban dilakukan pertama kali para tabi’in yakni generasi setelah Sahabat Nabi di Syam Syria, seperti Khalid bin Ma’dan (perawi dalam Bukhari dan Muslim), Makhul (perawi dalam Bukhari dan Muslim), Luqman bin ‘Amir (al-Hafidz Ibnu Hajar menilainya jujur) dan sebagainya, mereka menganggungkannya dan beribadah di malam itu.

    Nah dari mereka ini kemudian orang-orang mengambil keutamaan malam dipertengahan bulan Syaban tersebut. Ketika hal itu mulai populer diberbagai negara, maka para ulama berbeda dalam menyikapinya, ada yang menerima dan ada pula yang tak menerima.

    Wallahu A’lam Bish Showab

     

    Editor : Abe

    Facebook Comments Box